Wisata Gua Kiskendo

Mata kami saat itu juga terpana oleh panorama relief yang terpahat pada tebing-tebing batu di seputar pintu masuk gua. Ukuran relief yang besar serta terbangun membuatnya makin riil. Tiap-tiap fragmen yang terpahat melemparkan saya pada Ramayana, suatu epos paling legendaris didunia, cerita perebutan Dewi Shinta pada Rama serta Rahwana.

Tetapi, tidak banyak yang tahu bahwa semula persekutuan Rama serta kerajaan kera tidak dapat dilepaskan dari cerita pertempuran yang tidak kalah sengitnya, yakni pertempuran pada Mahesasura serta Lembusuro melawan Subali manusia kera. Jadi di Goa inilah kita bakal menelusuri kisahnya. Tidak seperti umumnya gua yang cuma dapat di nikmati keelokannya, Gua Kiskendo tawarkan dua hal, suatu cerita sekalian keindahan.

Masuk mulut gua kita bakal disambut oleh beberapa puluh sarang laba-laba yang melekat di bibir gua. Sesaat akar pohon-pohon sama-sama berkait di teras. Matahari yang garang perlahan-lahan makin tidak bernyali ikuti kami yang mulai menuruni dinginnya undak-undakan. Makin lama makin gelap sampai jelas cuma dapat diperoleh dari headlamp yang mulai kami nyalakan. Selama jalur penelusuran ini sudah dialasi beton hingga tidak mesti jadi seseorang caver profesional apabila mau menelusurinya. Walau demikian tetesan air dari stalagtit yang membuat lubang-lubang kecil dan udara dingin bikin penelusuran kesempatan ini tidak kalah mendebarkan.

Goa tengah sepi, cuma kami berdua serta seseorang guide yang dengan setia menceritakan tiap-tiap lorong gua yang konon yaitu istana dari kakak beradik berkepala kerbau serta sapi sekalian medan pertempurannya melawan Subali. Saat itu juga saya memikirkan bagaimanakah pertempuran itu berlangsung, bagaimanakah kekhawatiran Sugriwa yang menanti dengan kuatir keselamatan kakaknya yang tengah bertempur dengan kakak beradik Mahesasura serta Lembusuro didalam gua. Juga waktu lihat suatu lubang besar menuju langit diatas kepala, saya seakan betul-betul tengah lihat drama kepanikan Subali yang terkurung karena pintu masuk yang tertutup batu hingga mesti menjebol langit-langit gua untuk dapat keluar.

Keseluruhan ada 9 tempat pertapaan yang ada disana, semasing yaitu Pertapaan Tledek, Kusuman, Padasan, Santri Tani, Semelong, Lumbung Kampek, Selumbung, Seterbang, serta Sekandang. Di tengah-tengah gua, dekat suatu ruang yang sama dengan aula kecil, ada gentong diisi air. Air yang datang dari tetesan stalagtit itu dapat kita minum untuk melepas dahaga sesudah menelusuri tiap-tiap lorong gua sejauh seputar 1 km.

Menelusuri Gua Kiskendo sudah bikin saya seakan tengah melihat pementasan teater dengan artistik suatu karya masterpiece garapan seseorang seniman. Sesaat relief yang terpahat indah di sekelilingnya sama prosa yang dibacakan dengan nada merdu nan berat oleh seseorang narator. Pandangan perlahan-lahan makin jelas, matahari kembali benderang. Pementasan sudah selesai.  Mata kami saat itu juga terpana oleh panorama relief yang terpahat pada tebing-tebing batu di seputar pintu masuk gua. Ukuran relief yang besar serta terbangun membuatnya makin riil. Tiap-tiap fragmen yang terpahat melemparkan saya pada Ramayana, suatu epos paling legendaris didunia, cerita perebutan Dewi Shinta pada Rama serta Rahwana.

Tetapi, tidak banyak yang tahu bahwa semula persekutuan Rama serta kerajaan kera tidak dapat dilepaskan dari cerita pertempuran yang tidak kalah sengitnya, yakni pertempuran pada Mahesasura serta Lembusuro melawan Subali manusia kera. Jadi di Goa inilah kita bakal menelusuri kisahnya. Tidak seperti umumnya gua yang cuma dapat di nikmati keelokannya, Gua Kiskendo tawarkan dua hal, suatu cerita sekalian keindahan.

Masuk mulut gua kita bakal disambut oleh beberapa puluh sarang laba-laba yang melekat di bibir gua. Sesaat akar pohon-pohon sama-sama berkait di teras. Matahari yang garang perlahan-lahan makin tidak bernyali ikuti kami yang mulai menuruni dinginnya undak-undakan. Makin lama makin gelap sampai jelas cuma dapat diperoleh dari headlamp yang mulai kami nyalakan. Selama jalur penelusuran ini sudah dialasi beton hingga tidak mesti jadi seseorang caver profesional apabila mau menelusurinya. Walau demikian tetesan air dari stalagtit yang membuat lubang-lubang kecil dan udara dingin bikin penelusuran kesempatan ini tidak kalah mendebarkan.

Goa tengah sepi, cuma kami berdua serta seseorang guide yang dengan setia menceritakan tiap-tiap lorong gua yang konon yaitu istana dari kakak beradik berkepala kerbau serta sapi sekalian medan pertempurannya melawan Subali. Saat itu juga saya memikirkan bagaimanakah pertempuran itu berlangsung, bagaimanakah kekhawatiran Sugriwa yang menanti dengan kuatir keselamatan kakaknya yang tengah bertempur dengan kakak beradik Mahesasura serta Lembusuro didalam gua. Juga waktu lihat suatu lubang besar menuju langit diatas kepala, saya seakan betul-betul tengah lihat drama kepanikan Subali yang terkurung karena pintu masuk yang tertutup batu hingga mesti menjebol langit-langit gua untuk dapat keluar.

Keseluruhan ada 9 website pertapaan yang ada disana, semasing yaitu Pertapaan Tledek, Kusuman, Padasan, Santri Tani, Semelong, Lumbung Kampek, Selumbung, Seterbang, serta Sekandang. Di tengah-tengah gua, dekat suatu ruang yang sama dengan aula kecil, ada gentong diisi air. Air yang datang dari tetesan stalagtit itu dapat kita minum untuk melepas dahaga sesudah menelusuri tiap-tiap lorong gua sejauh seputar 1 km.

Menelusuri Gua Kiskendo sudah bikin saya seakan tengah melihat pementasan teater dengan artistik suatu karya masterpiece garapan seseorang seniman. Sesaat relief yang terpahat indah di sekelilingnya sama prosa yang dibacakan dengan nada merdu nan berat oleh seseorang narator. Pandangan perlahan-lahan makin jelas, matahari kembali benderang. Pementasan sudah selesai.

Advertisements